Blog

Card image cap

Menyusuri jejak kina pasundan : bukit unggul

Jelajah

Tahun baru 2021 baru saja berlalu selama kurang lebih dua bulan. Yang artinya tugas-tugas baru sebagai bentuk realisasi tahun anggaran 2021 ini mulai bermunculan. Tepat pada bulan Januari 2021 ini, saya ditugasi sebagai salah satu anggota tim Program prioritas 'Kanal Budaya'. Program ini berupa konten-konten berupa film bertema budaya dan sejarah.

Berbeda dari konten-konten yang diproduksi selama awal pandemi tahun lalu. Kanal Budaya memberikan tuntutan konten dengan kualitas internasional. Untuk mencapai tujuan itu, kantor pusat menunjuk beberapa produser pendamping dari kalangan profesional untuk mengaping proses produksi konten ini.

Singkat cerita, setelah ketua tim beberapa kali rapat bersama tim pusat dan produser pendamping akhirnya disepakati tema film yang akan diangkat adalah tentang Kina. Mengapa kina? Alasannya, karena komoditas ini memiliki sejarah yang sangat panjang, khususnya di Bumi Pasundan. 

Bagaimana komoditas ini pernah menjadi salah satu primadona andalan bangsa kolonial. Maka tak pelak, saat itu Hindia Belanda menjadi negara pengekspor kina terbesar di dunia. Perkebunan kina terbentang dari mulai daerah Cibodas Lembang, Bukit Unggul, Ciater sampai perkebunan Kertamanah yang terletak di Pangalengan Kabupaten Bandung. Kondisi geografis Bumi pasundan yang memiliki kontur pegunungan dan cuaca yang dingin cocok untuk ditanami Kina.

Film dokumenter yang mengangkat cerita kina ini direncanakan memiliki 3 episode. Dimana setiap pembabakannya memiliki akan membawa penonton melihat kejayaan kina di masa depan, kondisi hari ini dan perkembangan manfaat kina di masa depan. Untuk mengeksekusi tema besar ini, berbagai tahapan dilakukan oleh tim. Sejak bulan februari 2021 tim mulai melakukan berbagai studi literatur  dari berbagai sumber tentang kina.

Perkebunan Kina Bukit Unggul


Setelah melakukan studi riset literatur, diperlukan survey lapangan kondisi perkebunan kina. Perizinan pun dikirim ke kantor PTPN VIII CIATER. Pak Erfi ditugasi dari kantor PTPN sebagai petunjuk bagi kami menyusuri perkebunan kina di Bukit Unggul.

Jarak lokasi PTPN VIII CIATER cukup jauh dengan perkebunan kina Bukit Unggul yang secara administratif lokasinya berada di desa Cipanjalu, Cilengkrang, Bandung Jawa Barat. Alternatif jalan yang kami tempuh melewati jalur Maribaya, Cibodas, Lembang.

Sepanjang perjalanan, mata kami disuguhi pemandangan berbagai kebun sayuran, yang memanjakan mata. Sedangkan saat memasuki area Bukit Unggul pohon-pohon ekaliptus (Eucalyptus sp) menjuntai tinggi membuat jalanan sekitar menjadi rimbun. Dilansir dari artikel alodokter.com eucalyptus memiliki manfaat yang hampir sama dengan minyak kayu putih, yaitu menghangatkan badan. Bahkan selain digunakan dibidang farmasi ekaliptus juga dimanfaatkan untuk produk pengharum, antiseptik, hingga penggunaan di bidang industri. Namun di perkebunan kina manfaat tumbuhan ini berfungsi sebagai tanaman pelindung Kina. 

Semakin dalam kami memasuki area perkebunan bukit unggul goncangan pun mulai terasa, karena jalanan perkebunan yang cukup terjal. Kendati demikian tidak menyurutkan semangat kami untuk mengunjungi lokasi perkebunan kina di Bukit Unggul. Pak Erfin sebagai pemandu kami menggunakan motor untuk menuju lokasi, beliau menggunakan jalan pintas yang hanya bisa digunakan oleh motor. Sehingga ia lebih dulu sampai di perkebunan Bukit Unggul.

Sesampainya di lokasi lelaki bertubuh tinggi dibalut dengan jaket kulit hitamnya menyambut kami, kemudian mengenalkan kami ke pengelola di Bukit Unggul. Pengola Afdeling Bukit Unggul bercerita jika saat ini bukit unggul merupakan satunya-satunya kebun yang masih memproduksi kina. Dalam sebulan Bukit Unggul memproduksi Kulit Kina Kering Tepung (K3T) sekitar 2 Ton.

Tim kami juga didampingi oleh seorang peneliti Arkeologi Kolonial, Lia. Beliau telah meneliti kina selama bertahun-tahun. Di bukit unggul beliau  memandu kami menyusuri jejak-jejak peninggalan Belanda di pabrik Kina. Gedung yang dibangun zaman Belanda dini masih digunakan untuk memproses kina K3T sampai hari ini.

Bahkan mesin penggarangan kulit kina yang digunakan Belanda saat itu masih digunakan. Beruntung pengelola mengajak kami melihat-lihat sampai ke tungku mesin. Di mesin ini masih terlihat tertulis Davidson Pantent Girocco Engineering yang memproduksi pembakaran ini.

Selain mesin pembakaran kulit kina, mesin untuk menimbang dan penggiling kina menjadi K3T zaman Belanda pun masih digunakan. Hanya saja sekarang ada penambahan rel untuk mengangkut kina yang diproses ke atas mesin penggilingan. “Bedanya jaman Belanda dulu untuk masuk ke penggilingan dilakukan oleh para pekerja, dengan cara dipanggul ke atas”, tutur Yayan, salah satu pegawai Afdeling Bukit Unggul yang memandu kami.

Komplek perkebunan dengan Arsitektur yang Unik


Puas menyusuri pabrik pengolahan kina, selanjutnya kami diajak untuk menyusuri tempat penyemaian bibit kina. Kami  melewati jalan terjal yang hanya muat dilewati satu mobil berukuran minibus. Sepanjang perjalanan kami melihat pemandangan kompleks perumahan karyawan perkebunan yang dengan ukuran rumah yang sama. 

Arsitektur perumahan di kompleks perkebunan ini tergolong unik. Karena semua rumah memiliki arsitektur yang sama yaitu menggunakan gaya arsitektur rumah khas Sunda. Rumah dinas dengan gaya arsitektur tradisional ini menggunakan rumah panggung yang berdiri di atas tumpukan batu. Dinding yang digunakan terbuat dari bilik.Pengelola menjelaskan kepada kami, jika perumahan dengan arsitektur ini telah digunakan sejak zaman Belanda. 

Berbeda dengan rumah dinas yang diperuntukkan pejabat perkebunan. Arsitektur art deco khas Eropa nampak megah terlihat dari bawah bukit. Bangunan ini berdinding tembok semen yang kokoh dan kuat khas heritage-heritage peninggalan Belanda. Bercat dominan putih dengan sesekali diselingi hitam. 

Keramahan orang Sunda yang someah menyambut kehadiran kami. Aktivitas di lingkungan kompleks pun tampak akrab. Anak-anak kecil yang bermain permainan anyang-anyangan dari tanah. Ada juga yang bermain bola voli di lapangan. Senda gurau para ibu pun nampak di pelataran rumah. Aktivitas di kompleks perkebunan ini nampak kontras dengan aktivitas warga di perkotaan. Yang banyak menghabiskan waktunya dengan gadget. Mungkin yang menjadi salah satu faktornya karena sinyal internet di wilayah perkebunan ini kurang bagus.

Teknik Pembibitan Kina